Itulah Simbolmu!

4 12 2008

Sejenak pandanganku mengarah pada sebuah hiasan dinding yang terpampang di atas komputer buntut di kamarku. Ku terdiam. Sepersekian detik kuberlalu ke masa dimana ada seorang wanita bersusah payah sisihkan waktu tuk buat sesuatu yang bagi sebagian besar cewek sekalipun cukup sulit membuatnya dan diberikan kepadaku saat hari ulang tahunku. Waktu itu, ku diem aja padanya klo hari itu aku ulang tahun. Bagiku emang ga terlalu penting peringatan ulang tahun itu, kadang ku pernah lupakan ulang tahunku dan malah membuat pesta peringatan ulang tahun usahaku walo kecil2an. Sekedar penyemangat kerja, sekaligus pererat hubungan antar karyawan pikirku.

Nah, saat ku cuek dengan ulang tahunku, dia telpon aku, “Mas, sibuk ga sekarang? Antar aku ke kantor pos yuk! Aku mau paketin barang” katanya. Tak terpikir olehku, aku iyakan aja dan langsung cabut ke kosnya. Segera ku antar dia ke kantor pos. Dengan motor bebekku, di sepanjang perjalanan itu kami isi dengan canda antara kami. Dengan tingkah manjanya, dia slalu buatku segar dan ketawa. Dari tempat kosnya yang terletak di salah satu sudut barat kota, kami berlalu melewati satu-persatu pertokoan di jalan K.H Ahmad Dahlan yang menghadirkan suasana khas kota Jogja sebagai kota pusat pelajar ini. Baru beberapa meter dari sudut perempatan Ngampilan, dikanan jalan dapat terlihat berjejer toko-toko buat memanjakan kebutuhan pelajar, mulai dari seragam, alat2 pramuka, olahraga dan lain-lain. Setelah itu, tersaji beberapa toko alat tulis dan kantor. Beberapa meter berikutnya dijumpai beberapa toko pakaian dan perlengkapan muslim. Emang di daerah ini banyak terdapat komunitas mahasiswa dan pelajar muslim. Selain itu, ada beberapa kampus dan sekolah-sekolah Islam berada disini berdampingan dengan mayoritas penduduk Muhammadiyah di zona biru barat kraton ini. Berdampingan dengan toko-toko pakaian muslim, berikutnya ada beberapa toko buku dan kitab. Emang untuk toko buku di daerah ini kurang seberapa. Di kota ini telah ada banyak toko-toko buku, mulai dari yang konvesional sampai yang terkini. Mulai yang loakan sampai yang buku-buku buat kalangan tajir. Mulai buku-buku pra sekolah hingga jurnal-jurnal ilmiah semacam tesis dan skripsi yang ga’ tau dari mana mereka mendapatkannya dengan mudah bisa didapat dengan harga yang sangat terjangkau. Emang beginilah, kota ini surga bagi para pencari ilmu. Faktanya, bagi mereka yang ingin jalan pintas pengin segera lulus, dengan mudah dapat korbankan idealisme tuk mencontek jurnal-jurnal yang beredar bebas ini.

Sampai di ujung jalan, tepat di depan lampu traffict light berdiri sebuah rumah sakit Muhammadiyah yang menurutku terlalu dipaksakan berada di tengah kota sebagai tempat pelayanan kesehatan. Lepas dari ujung jalan ini, kami berganti dengan jalan yang lebih menggambarkan nilai budaya kota. Disini berjajar beberapa Bank pemerintah dan swasta berdampingan dengan toko-toko yang memuaskan kebutuhan akan cindera mata para pendatang atau wisatawan yang berkunjung ke kota ini. Selain itu, di panghabisan jalan ini terletak dengan megah beberapa bangunan peninggalan sejarah yang bernilai seni tinggi. Mulai dari istana negara pertama sebelum hijrah ke Jakarta, benteng vrederburg, gedung bekas gubernur Belanda yang sekarang dijadikan kantor pusat bank pemerintah, dan satunya lagi dijadikan kantor pos yang kami tuju ini.

Sesampai di depan kantor pos, sebelum sempat ku belokkan setir kekanan, tiba-tiba ia bilang “Mas, ga’ jadi aja”, “mending dikirim lewat tempat khusus paketan barang yang didepan”, “yang di utara perempatan itu lo!”. Tanpa tanya ke dia aku dah tau klo yang ia maksud itu tempat paket kilat khusus pos express utara perempatan Gondomanan. Tapi aku mulai curiga, hingga kupancing dia “emang buat siapa sih Dik paketan ini?”. “Buat sepupuku di Lampung Mas.” jawabnya. Tapi tetap tidak mengurangi kecurigaanku. Benar juga, sampai di perempatan Gondomanan bukannya belok kiri, Adik malah menyuruhku terus sambil berujar “Wah, dikirim lewat sana aja mas”. “Lewat mana?”, “di daerah sini ga’ ada tempat layanan kiriman paket” sergahku walo aku dah mulai tau dia merencanakan sebuah kejutan bagiku.

“Ya udah, di bawa ke tempat kos Mas dulu aja ya?”, pintanya tiba-tiba.

“Lho kok gitu?” kataku memancing.

Karena mulai kehilangan akal buat mengelabuhi aku, senjata mematikannya keluar dan bilang dengan manjanya “Aaaahhh, pokoknya di bawa ke tempat Mas dulu” rengeknya.

Tanpa merengek dan manja pun aku memang hampir selalu ga’ bisa menolak setiap permintaannya selama dalam batas kewajaran dan aku merasa sanggup memenuhinya. Aku enjoy aja emang. Itulah yang membuatku merasa hidup lebih berwarna bersamanya. Aku paling ga’ bisa liat dia sedih. Lagian aku tu orangnya ga’ banyak omong (walau klo merasa punya chemistry aku bisa begitu terbuka dengan orang tersebut), jadi sangat butuh orang yang buatku merasa rame semacam Adikku ini. Apalagi kalo dia minta dengan manja seperti ini, aku pasti luluh dibuatnya.

Karena ga’ kuat menahan tawaku, akhirnya di kosku aku bilang ke dia “Adik mo ngasih ke aku ya?”

“enggakk…kokk..” dengan senyum malu ia mau mengelak.

“benerann….”, “berarti boleh tak liat dong isinya?” pancingku lagi.

“eh..eh…Mas, jangan to..”, “iya, iya… itu emang buat Mas kok” katanya dengan malu-malu.

“tapi jangan dibuka sekarang, kan kejutan” tambahnya.

Dalam hati aku sebenarnya sangat bahagia. Dalam hati kuucapkan syukur bahwa ia memang masih sayang ke aku, walo mungkin ia tak tau bahwa aku menyayanginya lebih dari yang ia kira. Bagiku, ga’ terlalu kuharapkan sebuah benda, dia ingat aja aku dah senang. Apalagi aku tau karakter dia yang sebenarnya yang punya prinsip ga’ harus sebuah empati diwujudkan dengan benda, kepada siapapun, temannya, atau bahkan saya sendiri sebagai pacarnya.

Masih dengan sisa tawaku karena lucunya Adikku ini, aku bilang padanya “makasih Dik ya. Adik dah nyempetin waktu buat bungkus-bungkus ginian”. Emang sekilas tak terlihat bungkusan kado dari hadiah itu, karena Adik membungkusnya dengan kertas payung coklat seperti buat bungkus paket kebanyakan. Mungkin itu salah satu dari rencananya, atau mungkin karena ia kesulitan membungkus bila dengan model kado biasanya mengingat barangnya ini berbeda dengan biasanya. Dimensi barang ini persegi panjang, walo sekilas hampir persegi. Besarnya hampir sebanding dengan tampilan muka monitor komputer 17 inchi. Dengan ketebalan sekitar 3,5 cm mungkin menyulitkan bila dibungkus model kado biasa. Terlepas dari itu, aku dah sangat hargai usahanya. Itu aja dah buatku tambah mantap dalam hati dan bilang ke hatiku sendiri. “Aku kan berusaha bahagiakanmu Dik.”, “seperti janji-janji yang dahulu, dan cuman konsisten dengan satu janjiku, BAHAGIAKANMU!”.

“Makasih ya!” kataku sekali lagi.

“Iya Mas, selamat ulang tahun ya!”, ucapnya singkat sambil meraih tangan kananku dengan tangan kanannya dan dipegangnya erat dalam jabatnya.

Dengan senyum lembut kuikuti irama gerakan tangannya terhadap tangan kananku. Diapun mengingatkan “tapi jangan dibuka sekarang Mas, nanti aja klo aku dah pulang ke kos”. “Iyaa..” jawabku dengan mengikuti nada manjanya.

Beberapa menit dari itu, kita berdua udah berada puluhan kilometer di selatan kota. Sebelumya kita emang ga’ berniat jalan-jalan ke tempat wisata. Karena tanpa rencana, sampai di tengah perjalanan kita berdua sebenarnya belum memutuskan tempat mana yang kita tuju. Jadi kita berjalan masih dengan tujuan yang ga’ jelas. Sekedar jalan aja ikuti roda motor bebekku. Hingga kami berhenti di tengah jalan

“Kemana kita dik?”, tanyaku.

“Ga’ tau, terserah Mas aja mo ngajak jalan2 kemana.” jawabnya setengah terpaksa karena memang sebelumnya dia ga pengin jalan2, pengin langsung pulang ke kos. Aku aja yang setengah memaksanya ajak jalan2.

“Ke pantai ya?”, aku beri masukan.

Langsung terpasang wajang cemberut dan bilang “klo ke pantai aja ga’ usah sampai Jogja Mas, di Lampung kan dah biasa.”. “Lagian aku ga’ suka pantai, daerahnya panas, aku ga kuat”, tambahnya.

“La terus kemana?, Adik kasih masukan dong!”, pintaku.

“Ga’ tau, ya terserah Mas lah. Yang ngajak kan Mas’, sergahnya tetap dengan wajah cemberut.

Sejenak ku sadar, ku salah memaksanya jalan2 di saat dia ga’ mood. Di tengah-tengah bingungku, aku merasa ada yang menuntun aja, kunyalakan lagi motor, kusuruh Adik naik lagi dan langsung kutancap gas. Beberapa kilometer kedepan, tiba-tiba kudapatkan petunjuk. Terpampang besar plang petunjuk arah yang tertuliskan “GOA CERME” dengan penjelasan visual arah panah kiri.

Aku serasa menemukan ide. “Itu dia Dik!” kataku tiba-tiba. “Apa Mas?” tanyanya tetap dengan nada terpaksa, ditambah lagi sepanjang jalan setelah debatku dengannya tadi buat dia diam seribu bahasa.

“Kita ke Goa Cerme yuk!”, ajakku senangkan lagi hatinya.

“Mana Mas?”, tanyanya yang kurasakan mulai antusias.

“Tu liat!”, tangan kiriku menengadah ke atas depan menunjuk sebuah plang besar warna hijau bertulis petunjuk warna putih.

“Oh, iya iya Mas”, “aku pernah denger dari temenku, katanya bagus banget goanya”, jawabnya dengan gerakan-gerakan antusias hingga motorku hampir kehilangan keseimbangan.

Akupun senang dan lega, Adik jadi antusias. Kembali, sepanjang perjalananku ke Goa Cerme yang kira-kira 25 km dari jembatan Kretek jalan Parangtritis itu jadi lebih hangat. Hangat dengan tawa dan canda kami sepanjang jalan.

Hampir sampai di tujuan motorku ga’ kuat memasuki tanjakan yang agak curam hingga terpaksa Adik aku suruh turun dan jalan kaki, saat berjalan itulah ia yang ga’ mengira akan aku ajak ke tempat ketinggian seperti ini sendalnya patah. Dia memakai sendal hak tinggi rupanya. Di luar kebiasaannya. Moment2 seperti ini biasanya buat dia emosi. Aku tau dia itu sebenarnya ga’ terlalu emosian. Tapi ku juga tau klo akhir-akhir ini dia emang lebih emosian. Di luar dugaan, ia malah ketawa2 dengan manja, “Mas…., sendalku patah…”, rengeknya.

“Ya udah, kita beli aja lagi”, jawabku tenangkan hatinya sembari ketawa kecil. Dalam hatiku aku merasa emang mood Adik lagi bagus2nya hingga ia ga’ emosi dan luapkan kemarahan padaku seperti biasanya.

(to be continue)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.